Pengemis-Pengemis Gadungan di Masjid Al-Azizi Tanjung Pura, Sumatera Utara


Sudah sekitar 1 jam lebih aku berjalan naik sepeda motor. Aku sedang dalam perjalanan pulang kampong. Aku kuliah di Medan, Sumatera Utara, dan kampungku di Kualasimpang, Aceh Tamiang. Aku sudah terbiasa pulang kampong naik sepeda motor. Karena jarak Medan-Kualasimpang tidak terlalu jauh. Kurang lebih 150 Km (sekitar 3 jam). Dan itu masih batas wajar jarak tempuh sepeda motor.

Aku lihat handphoneku, sudah jam 12.10. Wah, sudah hampir zuhur, dan kebetulan hari Jum’at. Jadinya aku harus berhenti dan melaksanakan shalat Jum’at. Saat itu posisiku hampir memasuki Tanjung Pura. Mungkin sekitar 1,5 Km lagi. Ya udah, tanggung, lebih baik aku shalat di masjid Azizi di Tanjung Pura aja. Sekali-sekali ingin juga aku shalat di masjid bersejarah ini, walaupun sebenarnya agak malas shalat di situ karena berbagai hal yang akan aku tulis di bawah.

Masjid ini termasuk masjid yang sudah tua. Aku tidak tahu lebih dahulu mana yang dibangun, antara Masjid Raya Al-Mashun, Medan dan Masjid Azizi, Tanjung Pura ini. Tapi masjid ini terlihat lebih tua dari Masjid Raya Medan. Mungkin karena kurang dirawat. Ya maklum aja. Namanya Al-Mashun itu masjid tua di kota sebesar Medan. Sedangkan masjid ini berada di kota kecil Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kota ini bukan juga ibu kota Kabupaten Langkat (Stabat). Jadi wajar saja sedikit kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Sesampainya di Masjid, langsung aku menuju ke tempat parkir yang ada di sebelah kiri dari masjid. Setelah kuparkir sepeda motorku, aku langsung mendapat kartu parkir dari tukang jaga parkir. Perasaanku tidak enak. Pasti parkir ini bayar. Meskipun aku sebenarnya kurang setuju dengan kebijakan bayar parkir di masjid, tapi aku terima saja. Aku anggap ini sedekah.

Aku kebelakang menuju ke tempat wudhu. Begitu sampai ke tempat wudhu aku teringat sesuatu. Aku belum menelpon temanku, ada urusan dikit. Aku cari tempat yang agak tersembunyi. Karena aku akan membuka PDA (hanya PDA ini yang ada pulsanya, handphoneku yang Nokia 2300 pulsanya tinggal Rp.247,5, masa aktif juga sudah habis…). Aku tidak ingin menarik perhatian orang karena membuka PDA yang besar ini bodynya, dan karena PDA ini relatif lebih sedikit orang yang memakainya.

Sudah kutemukan tempatnya. Aku berdiri di situ. Aku buka PDA, dan mulai menelpon temanku. Aku merasa ada yang membuntutiku. Aku berbalik, dan betapa terkejutnya aku. Di belakangku sudah menunggu seorang anak laki-laki yang kuperkirakan umurnya sekitar 16-18 tahun (setingkat SMA) menungguiku. Saat kami bertemu mata, dia tersenyum seperti meminta sesuatu.

Aku merasa agak terganggu dan aku menjauh. Dia malah mengikutiku. Sialan ni anak, maunya apa sih? Untung saja dalam waktu yang singkat aku menyelesaikan urusan dengan temanku itu. Kututup telepon. Dan berbalik badan untuk wudhu. Anak tersebut sudah menunggu.

“Assalamu’alaikum, Bang. Mohon bantuannya bang, aku belum ada makan. Tolonglah bang untuk aku beli nasi…”

Astaghfirullah…. Bulan Ramadhan koq beli nasi sih siang-siang gini? Apa dia tidak puasa? Apa dia bukan muslim? Tapi kenapa ke masjid. Aku perhatikan lebih seksama, anak ini menggunakan baju kaos putih dan celana jeans gombor yang bagus dan bersih. Baju putihnya itu benar-benar putih seperti baru dicuci. Mukanya bersih dan berseri seperti baru selesai makan. Badannya cukup bersih dan berisi. Sama sekali tidak mencerminkan seperti pengemis dan gelandangan di pinggir jalan.

Aku agak emosi melihatnya. Tapi Ramadhan menahanku untuk tidak marah. Serta merta aku berusaha mencari alasan. Tapi Ramadhan kembali menahanku untuk tidak berbohong. Apa yang harus kulakukan? Akhirnya aku bilang sama dia:

“Aduh dik, aku dalam perjalanan ke Aceh ni dik. Uangku tinggal sedikit.”

Langsung di jawabnya, “Aku gak maksa koq bang, seikhlasnya aja.”

Kukeluarkan uang yang tersisa di kantongku, selembar Rp.5000.- dan selembar Rp.1000,-.

“Cuma tinggal inilah uangku.” Aku berkata.

“Makasi ya bang.” Langsung saja dia mengambilnya dari tanganku, dan segera berbalik pergi.

“Itulah uang terkahirku.” Kataku lagi dengan nada yang agak keras, berharap dia dengar dan mau kasihan dengan keadaanku.

“Makasi ya bang….” Katanya sekali lagi dari jauh sembari mengangkat tangannya dan berjalan lebih cepat menjauhiku.

Astaghfirullah…, teganya dia padahal aku udah bilang berkali-kali bahwa itu adalah uang terakhirku. Emosi kembali merambat. Langsung aku ambil wudhu untuk mendinginkan hati.

Saat itu entah bagaimana perasaanku. Kesalnya bukan main. Koq ada ya orang seperti itu? Sebenarnya kejadian seperti ini sudah aku lihat berkali-kali di masjid ini. Tapi aku tidak menghiraukannya karena yang memintanya adalah anak kecil yang mungkin seumuran anak SD. Aku sudah beberapa kali shalat di masjid ini, macam-macam saja alasan mereka untuk meminta uang. Ada yang alasannya uang untuk kebersihan masjid, uang untuk jaga sandal dan yang paling sering adalah tanpa alasan. Langsung minta uang aja. Dan sayangnya, sedang tidak ada nazir masjid di situ. Jadi tidak ada yang melarang anak-anak itu. Padahal jumlah anak-anak peminta-minta saat itu lumayan banyak yang mengerubuti saya dengan berbagai alasan meminta uang dari saya.

Bukannya aku pelit. Aku sering juga memberi sumbangan ke masjid atau pengemis. Tapi aku paling tidak suka orang yang menjadi pengemis gadungan. Dia masih memiliki tenaga, umur dan kemampuan untuk bekerja, dia malah memilih menjadi pengemis karena enak tinggal terima uang. Atau dia sengaja berbohong untuk menerima belas kasihan dari orang (belum makan, uang kebersihan, uang jaga sandal, dll).

Saya harap melalui tulisan ini bisa membuka mata orang yang ada di pemerintahan tingkat Kabupaten Langkat agar lebih peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi di daerahnya. Menurut saya ini adalah penyakit masyarakat yang harus diberantas. Bagaimana daerah Langkat mau maju sedangkan anak-anak dan remajanya generasi penerus lebih memilih menjadi pengemis padahal masih mampu untukbelajar atau bekerja? Mereka malas bekerja. Maunya yang instan walaupun harus menanggung malu. Ini akan menjadi kebiasaan buruk yang menurut saya nantinya di masa depan bisa menyebabkan ketidakseimbangan keadaan sosial. Langkat bisa diambil alih oleh orang luar karena kebiasaan malas sudah dipupuk dari kecil. Putra daerahnya tidak “bertaji”. Langkat harus bangun dan menjadi daerah yang maju. Dan salah satu caranya menurut saya adalah dengan mengayomi anak-anak yang lebih suka mengemis dari pada bekerja/belajar ini.

Saya mengerti, hal ini bukan suatu yang mudah. Tapi saya yakin, jika segala niat baik itu akan diberkahi dan dibantu oleh Allah dalam pelaksanaannya.

Oya, satu hal lagi yang saya kurang setuju di masjid Azizi dan masjid-masjid lainnya. Masa’ parkir harus bayar? Apa semua yang memiliki sepeda motor memiliki uang untuk bayar parkir. Memangnya masjid mau disamakan dengan Mall dan pusat perbelanjaan? Akibatnya orang yang kurang mampu akan malas shalat di sini. Karena mereka mungkin memiliki uang yang pas-pasan. Apa tidak bisa masjid menggaji seorang tukang parkir? Saya salut dengan parkir di Masjid Dakwah USU. Saya mau bayar parkir, penjaga parkir langsung menolak uang dari saya.

Bapak-bapak aparatur negara di Kab. Langkat yang saya hormati. Masjid Azizi itu masjid tua yang bersejarah. Masjid itu harusnya dilestarikan dan dipelihara. Dan lebih jauh lagi masjid itu adalah tempat beribadah umat Muslim. Dan entah kenapa banyak pula pengemisnya (baik yang benar-benar maupun yang gadungan). Umat muslim saat ini (setau saya) sudah memiliki predikat buruk dalam hal meminta (mengemis). Bisa kita hitung di sepanjang jalan Medan-Banda Aceh ada berapa masjid yang meminta sumbangan ke pengguna jalan? Apa pernah Anda lihat rumah ibadah umat lain meminta sumbangan ke jalan-jalan juga saat dibangun? Apa kita sebagai muslim tidak malu? Saya memang senang juga sih bisa menyumbangkan uang ke sumbangan masjid di jalan-jalan itu. Jadi saya memiliki banyak tabungan di akhirat. Tapi saya malu dengan umat agama lain.

Jadi sekali lagi saya mohon perhatiannya pemerintah Kabupaten Langkat untuk menyingkapi dan mencari solusi masalah ini.

Pos ini dipublikasikan di Sekedar Cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s