Aceh Tamiang, Keindahan Alam Ujung Aceh yang Terlupakan


Aceh Tamiang, sebuah kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam yang tergolong baru di Indonesia.

Kabupaten ini pisah dari Aceh Timur pada tahun 2002. Aceh Tamiang merupakan kawasan kaya minyak dan gas, meski jumlahnya tidak sebesar Aceh Utara, dan kawasan ini juga merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit di NAD. Kabupaten ini berada di jalur timur Sumatera yang strategis dan hanya berjarak lebih kurang 250 km dari Kota Medan, Sumatera Utara sehingga akses serta harga barang di kawasan ini relatif lebih murah daripada daerah Aceh lainnya. Disamping itu, kawasan ini relatif lebih aman semasa GAM berjaya dahulu. Ketika seruan mogok oleh GAM diberlakukan di seluruh Aceh, hanya kawasan ini khususnya Kota Kuala Simpang yang aktivitas ekonominya tetap berjalan (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Aceh_Tamiang).

Selain dengan segala macam yang di sebut oleh Wikipedia di atas, Aceh Tamiang juga memiliki keindahan alam yang luar biasa. Di bawah ini merupakan foto beberapa objek pariwisata di Aceh Tamiang, yang diambil saat aku sedang melakukan survey titik koordinat sekolah-sekolah di Aceh Tamiang.

Sayangnya objek-objek wisata ini sepertinya kurang mendapat perhatian yang baik dari Pemerintah Kabupaten setempat. Sehingga objek wisata ini sangat sepi pengunjung. Memang, secara geografis, objek-objek wisata tersebut agak sulit dicapai. Jauh dari pusat kota; rata-rata membutuhkan waktu lebih dari 2 jam untuk sampai ke sana. Hal ini ditambah lagi dengan kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Jika hujan turun, maka orang yang datang ke tempat wisata tersebut akan sulit untuk pulang. Di Sangkapane (salah satu nama objek wisata di sana), mobil Panther pick-up yang membawa kami ke sana, harus ditinggalkan di tengah jalan, karena mobil tersebut tidak bisa meneruskan perjalanan yang disebabkan kondisi jalan yang sangat buruk. Sepertinya satu atau dua hari yang lalu, hujan mengguyur daerah ini tapi efeknya terhadap kondisi jalan masih kami rasakan. Akhirnya kami meneruskan perjalanan dengan jalan kaki selama kurang lebih 3 km. Untuk penduduk setempat mungkin jalan 3 km itu sudah biasa. Tapi bagiku yang berat badannya 105 kg, itu sangatlah melelahkan…. :(

Aku harapkan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang lebih perduli terhadap objek wisata di negeri sendiri. Sayang rasanya jika orang Kualasimpang ditanya, “Eh, rencananya kita mau jalan-jalan kemana?”. Dan dijawab dengan, “Ke Brastagi aja…, atau ke Sembahe (Sumatera Utara)”. Untuk menikmati keindahan alam kita harus pergi ke daerah orang lain, padahal di daerah sendiri ada tempat-tempat wisata sama bagusnya atau bahkan lebih bagus dari di luar. Minimal menurutku, jalan menuju ke sana tolong di perbaiki. Jika objek wisatanya sudah terkenal, maka pendapatan daerah tentu saja juga akan meningkat. Benar ‘kan?

Ku harap foto-foto yang ku ambil tersebut bisa menggugah hati kita semua…

Baleng Karang

Baleng Karang, salah satu daerah paling ujung di Tanah Tamiang, “terpleset dikit” nyampe ke Kab. Gayo Luwes

Pintu Kuari

Pintu Kuari, Kec. Simpang Kiri

Kaloy

Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu

Wisata 4 Goa

Wisata 4 Goa, Kecamatan Simpang Kiri

Rumah Kapal

Rumah Kapal, Lubuk Punti, Kecamatan Manyak Payed

Sangkapane

Sangkapane, Kecamatan Bandar Pusaka

Sangkapane

Sangkapane, Kecamatan Bandar Pusaka (sudut pandang yang berbeda)

Sangkapane

Sangkapane, Kecamatan Bandar Pusaka (sudut pandang yang berbeda)

Perjalanan menuju sangkapane

Perjalanan menuju Sangkapane, 3 Km lagi….

About these ads

9 Komentar

  1. April 11, 2010 at 5:25 pm

    nice blog..

  2. benosolbraine said,

    April 12, 2010 at 3:59 am

    thanks ching…. cuma nyoba-nyoba aja nih…. :)

  3. Sonyarita said,

    April 12, 2010 at 5:11 am

    Suduh cukup baik dalam penyampaian informasi dan sedikit kritikan positif buat pihak terkait. Tingkatkan kreatifitas dan kembangkan imajinasi dalam menulis.
    Selamat berBLOG ria

  4. aina said,

    April 12, 2010 at 5:37 am

    kalau jalannya beraspal enak jg yach…
    Jd klu mo kesana mesti nanya2 cuaca kemaren biar gak terjebak lumpur :D

  5. deodeye said,

    Mei 10, 2011 at 7:11 am

    wah keren artikelnya..
    boleh ane share ke Kaskus ga ?
    ane tampilin blog dan creditnya ke sini..

    itung2 promosi :p

    regards,

    deodeye @kaskus

    • benosolbraine said,

      November 29, 2011 at 9:24 pm

      maaf lama gak buka blog. sibuk banget… kalo gak basi, ya silahkan saja… :)

  6. melf said,

    Oktober 29, 2011 at 6:50 am

    “yang diambil saat aku sedang melakukan survey titik koordinat sekolah-sekolah di Aceh Tamiang.”

    Nice blog, sangat informatif. Numpang tanya titik koordinate itu nanti gunannya untuk apa?

    • benosolbraine said,

      November 29, 2011 at 9:25 pm

      pemetaan sekolah. untuk kepentingan dinas pendidikan…

    • benosolbraine said,

      Desember 30, 2011 at 4:50 pm

      banyak yang bisa didapatkan dari koordinat pemetaan sekolah. Salah satu contohnya adalah analisa pembangunan dan pendidikan. Dengan mendapat data koordinat, kita bisa mengukur jarak antar satu sekolah dengan sekolah lainnya; berapa jumlah sekolah di suatu daerah (kecamatan, desa atau kota); bila dibanding dengan data jumlah penduduk, apakah di daerah tersebut jumlah sekolahnya sudah cukup atau perlu dibangun sekolah lagi di daerah tersebut, atau di daerah tersebut terlalu banyak sekolah; dan lain sebagainya yang bisa bermanfaat bagi pembangunan dan pendidikan di Tamiang.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: